Penyebaran Hoax di Sosial Media

Pastinya dalam bersosial media kita sudah tidak asing lagi mendapatkan berita-berita ataupun rumor yang tidak benar adanya (hoax). Segala informasi yang beredar sangat berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat. Penyebaran berita hoax akan berdampak kepada kevalid-an suatu informasi yang ditemukan dan akan terjadinya berbagai opini yang berbeda dalam menanggapi berita yang beredar. Apalagi, media sosial seperti instagram, facebook, X, tiktok, dan lainnya dijadikan sebagai sarana dalam berinteraksi antar sesama secara online.

Dalam bersosial media harus digunakan dengan bijak dan dapat menjaga perbuatan agar tidak mengetik atau membuat hal-hal yang dapat menggiring opini orang lain dalam berbagai platftom digital yang ada saat ini, karena hanya dalam hitungan detik saja suatu berita ataupun informasi akan bisa langsung tersebar dan dapat diakses oleh orang lain melalui media sosial.

Adapun beberapa contoh penyebaran berita hoax yang terjadi dan tersebar luas di media sosial hingga membuat gempar dikalangan masyarakat, seperti isu adanya gempa Megathrust di Jawa Tengah yang menyatakan empat wilayah yang ada di Jawa Tengah tersebut terancam terkena dampak dari gempa Megathrust, hoax tentang undian berhadiah yang tersebar luas baik melalui pesan maupun platfrom digital lainnya, hoax mengenai pencairan dana sosial yang mengarahkan para masyarakat untuk memberikan data pribadi mereka, ajakan untuk berbuat amalan-amalan yang baik yang ternyata sebenarnya belum ada dalil ataupun sunah Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang hal tersebut, serta masih begitu banyak lagi penyebaran-penyebaran berita hoax yang telah dan hingga sekarang masih terjadi melalui teknologi dan platfrom digital.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

وحَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ. حَدَّثَنَا أَبِي. ح وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى. حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ. قَالَا: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عن أبي هريرة؛ قَالَ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم: "‌كفى ‌بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ".وحدثنا بن أبي بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ. حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَفْصٍ. حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِمِثْلِ ذَلِكَ

"Dan telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu'adz al Anbari telah menceritakan kepada kami Bapakku (dalam riwayat lain disebutkan), Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin Ashim dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Cukuplah seseorang (dianggap) berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia dengarkan". Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Ali bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan seperti hadits tersebut."

Dalam hadits ini dijelaskan betapa pentingnya kejujuran dan ketelitian dalam memberikan sebuah informasi. Rasulullah SAW telah memperingatkan umatnya untuk tidak sembarangan memberikan informasi tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu. Hal ini mengajarkan kita untuk tidak menyebarkan rumor atau sebuah informasi yang tidak benar adanya, karena bukan hanya dapat merugikan orang lain tetapi juga dapat merusak hubungan antar setiap individu.

Selain itu juga terdapat ayat al-Qur'an yang menjelaskan mengenai penyebaran berita bohong (hoax) yang terdapat pada QS. An-Nur (24) ayat 11 yang berbunyi:
اِنَّ الَّذِيْنَ جَآءُوْ بِا لْاِ فْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْ ۗ لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّـكُمْ ۗ بَلْ هُوَ  خَيْرٌ لَّـكُمْ ۗ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْاِ ثْمِ ۚ وَا لَّذِيْ تَوَلّٰى كِبْرَهٗ  مِنْهُمْ لَهٗ عَذَا بٌ عَظِيْمٌ 

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barang siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula)."

Ayat ini mengingatkan umat Islam agar tidak mudah mempercayai berita bohong (hoax) yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Allah SWT menyatakan bahwa orang-orang yang menyebarkan berita hoax tersebut sebenarnya berasal dari golongan mereka sendiri, maksudnya dari kata "Mereka" ialah orang-orang yang seharusnya dapat dipercaya sebagai saudara dalam umat Islam.

Allah juga menekankan bahwa meskipun berita hoax tersebut terlihat seperti sebuah kerugian, sebenarnya berita hoax itu dapat menjadi sebuah kebaikan bagi umat Islam. Mereka yang menyebarkan berita palsu akan mendapatkan balasan atas segala kesalahan yang mereka perbuat, dan orang yang terlibat langsung dalam menyebarkan berita bohong (hoax) itu akan mendapatkan azab yang besar.

Jadi, kita sebagai makhluk yang berakal sudah seharusnya menggunakan akal pikiran kita dengan bijak, dan tetap selalu berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan sebuah informasi agar tidak dapat mudah terpengaruh oleh berita-berita yang tidak benar. Kita juga harus selalu berpegang pada kebenaran dan keadilan, serta dapat menjauhi segala tindakan yang menyebabkan fitnah dan dapat membahayakan hubungan antarsesama.


Referensi:

Hidaya, N., Qalby, N., Alaydrus, S. S., Darmayanti, A., & Salsabila, A. P. (2019). Pengaruh Media Sosial Terhadap Penyebaran Hoax Oleh Digital Native. Makassar: Universitas Muslim Indonesia.

Rahmadhany, A., Safitri, A. A., & Irwansyah, I. (2021). Fenomena penyebaran hoax dan hate speech pada media sosial. Jurnal Teknologi Dan Sistem Informasi Bisnis, 3(1), 30-43.

Komentar